Jurnal Nasional Fisioterapi https://jurnafisio.com/index.php/JF <p><strong>Jurnal Nasional Fisioterapi</strong> merupakan jurnal yang diterbitkan oleh Jurusan Fisioterapi Poltekkes Kemenkes Surakarta yang terdaftar dengan nomor <strong> ISSN (e): <a href="https://issn.brin.go.id/terbit/detail/20231204302195256" target="_blank" rel="noopener">3047-0927.</a> </strong>Jurnal ini berisi tulisan yang diangkat dari hasil penelitian kesehatan terutama di bidang fisioterapi yang telah melalui proses peer review. Adapun cakupan bidang fisioterapi meliputi fisioterapi muskuloskeletal, neuromuskuler, kardiovaskuler, kardiopulmonal, pediatri, geriatri, kesehatan wanita, olahraga, integumen,rehabilitasi berbasis masyarakat, maupun kesehatan kerja dan ergonomi.</p> <p>Cakupan artikel yang dipublikasikan pada Jurnal Nasional Fisioterapi meliputi hasil penelitian eksperimen maupun non eksperiman.</p> <p><strong>Jurnal Nasional Fisioterapi </strong>diterbitkan tiga kali dalam setahun, yaitu pada bulan <strong>Februari</strong>, <strong>Juni</strong> dan <strong>Oktober.</strong></p> <p><strong><a href="https://docs.google.com/document/d/1lLgkVjp5fcTE4qM9-ld9GCAZrZZTDR-p/edit?usp=sharing&amp;ouid=112597942157170886654&amp;rtpof=true&amp;sd=true">Download Template </a>| <a href="https://jurnafisio.com/index.php/JF/about/submissions">Submissions</a></strong></p> Jurusan Fisioterapi Poltekkes Kemenkes Surakarta en-US Jurnal Nasional Fisioterapi 3047-0927 MANFAAT ULTRASOUND DAN MOBILISASI SARAF PADA KASUS CARPAL TUNNEL SYNDROME: STUDI KASUS https://jurnafisio.com/index.php/JF/article/view/84 <p><strong>Latar belakang: </strong>CTS merupakan cedera akibat kompresi saraf medianus yang menyebabkan entrapment neuropati. Gejala yang sering dirasakan penderita CTS yaitu berupa nyeri menjalar yang mengenai persarafan saraf medianus pada pergelangan tangan. Selain itu penderita juga merasakan kesemutan pada ibu jari, telunjuk, jari tengah, dan setengah jari manis yang dirasakan diarea permukaan palmar tangan.<strong>Tujuan: </strong>untuk mengetahui penatalaksanaan fisioterapi pada kasus CTS dengan modalitas US dan mobilisasi saraf <strong>Metode: </strong>Metode yang digunakan pada studi kasus pada pasien dengan diagnosa CTS dextra. Terapi diberikan sebanyak tiga kali dengan kombinasi modalitas US dan ULTT 1 <strong>Hasil: </strong>Hasil evaluasi didapatkan adanya penurunan nyeri dengan skala VAS pada nyeri tekan awalnya 4,3 menjadi 3,2 dan nyeri gerak awalnya 5,3 menjadi 4,5 pada sisi dextra, peningkatan lingkup gerak sendi pada bidang sagital dari T1 S: 62°-0-70° menjadi T3 S: 65°-0-75° dan pada bidang frontal dari T1 F: 16°-0-30° menjadi T3 F: 20°-0-30°, peningkatan kekuatan otot dorsal fleksi, palmar fleksi dan radial deviasi dari T1 dengan nilai 4 menjadi T3 dengan nilai 5 tetapi masih disertai nyeri, dan pengukuran kemampuan fungsional menggunakan skala WHDI dengan skor awal 28% menjadi 20% pada sisi dextra <strong>Kesimpulan: </strong>Pemberian terapi US dan ULTT 1 yang telah dilakukan sebanyak 3 kali memberikan hasil terdapat adanya penurunan nyeri, peningkatan lingkup gerak sendi, peningkatan kekuatan otot, dan peningkatan kemampuan aktivitas fungsional pergelangan tangan.</p> Tri Atun Solekah Afif Ghufroni Herdianty Kusuma Copyright (c) 2025 Afif Ghufroni, Tri Atun Solekah, Herdiyanti Kusuma https://creativecommons.org/licenses/by/4.0 2025-10-31 2025-10-31 3 3 1 10 10.64974/jnf.v3i3.84 PENGARUH PEMBERIAN KINESIO TAPING TERHADAP PENURUNAN NYERI DYSMENORRHEA PRIMER PADA REMAJA PUTRI https://jurnafisio.com/index.php/JF/article/view/87 <p><strong>Latar Belakang:</strong> Dysmenorrhea merupakan keluhan ginekologis yang paling umum dirasakan remaja saat menstruasi. Dysmenorrhea terjadi karena endometrium dalam fase sekresi memproduksi prostaglandin yang menyebabkan hypertonus dan vasokontriksi pada myometrium sehingga mengakibatkan iskemia, disintegrasi endometrium dan nyeri. Dysmenorrhea dibagi menjadi dua yaitu dysmenorrhea primer atau fisiologis adalah nyeri pada perut bagian bawah saat menstruasi tanpa disertai adanya suatu kelainan dan dysmenorrhea sekunder atau patologis adalah nyeri perut bagian bawah saat menstruasi dan disertai adanya kelainan <strong>Tujuan:</strong> Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian kinesio taping terhadap penurunan nyeri dhysmenorrhea primary pada remaja putri. <strong>Metode:</strong> Jenis penelitian ini adalah quasy eksperimental dengan pendekatan kuantitatif. Rancangan penelitian yang digunakan adalah two group pre dan post test design. Alat ukur yang digunakan adalah numeric rating scale. <strong>Subjek: </strong>subjek penelitian ini adalah remaja putri yang berjumlah 30 orang, setelah itu, kelompok dibagi menjadi 2 kelompok yaitu kelompok intervensi dan kelompok kontrol. <strong>Hasil:</strong> Hasil uji statistik menggunakan independent sample t-test pada kelompok intervensi didapatkan hasil p=0,042 (p &lt;0,05) artinya ada pengaruh setelah diberikan intervensi tersebut dan pada kelompok kontrol didapatkan hasil p=0,918 (p &gt; 0,05) yang menunjukkan tidak ada pengaruh pemberjan edukasi. <strong>Kesimpulan:</strong> Terdapat perbedaan pengaruh pemberian kinesiotapping dan<br />edukasi terhadap penurunan nyeri pada nyeri dhysmenorrhea primary pada remaja putri. </p> Hanna Nabila Tsabita Jasmine Kartiko Pertiwi Pajar Haryatno Yulianto Wahyono Copyright (c) 2025 jasmine kartiko pertiwi, Hanna Nabila Tsabita, Pajar Haryatno, Yulianto Wahyono https://creativecommons.org/licenses/by/4.0 2025-10-31 2025-10-31 3 3 11 21 10.64974/jnf.v3i3.87 KORELASI DURASI MENATAP LAYAR GADGET DAN TINGKAT AKTIVITAS FISIK DENGAN KUALITAS TIDUR PADA MAHASISWA DI JURUSAN FISIOTERAPI POLTEKKES KEMENKES SURAKARTA https://jurnafisio.com/index.php/JF/article/view/89 <p><strong>Latar belakang:</strong> Kualitas tidur yang buruk berdampak pada sistem kardiovaskuler, neuromuskuler, dan muskuloskeletal. Mahasiswa fisioterapi berisiko mengalami gangguan tidur akibat stres, kurangnya aktivitas fisik, dan paparan layar gadget yang tinggi. <strong>Tujuan:</strong> Mengetahui hubungan antara durasi menatap layar gadget dan tingkat aktivitas fisik terhadap kualitas tidur mahasiswa fisioterapi Poltekkes Kemenkes Surakarta. <strong>Metode: </strong>Penelitian observasional analitik dengan pendekatan cross-sectional pada 87 mahasiswa. Kualitas tidur diukur menggunakan PSQI, aktivitas fisik diestimasi melalui VO₂max, dan durasi screen time dicatat per hari. Analisis<br />statistik menggunakan uji korelasi Spearman dan regresi logistik biner untuk mengevaluasi pengaruh gabungan variabel. <strong>Hasil:</strong> Terdapat hubungan signifikan antara aktivitas fisik dan kualitas tidur (r = +0,518; p &lt; 0,01), tetapi tidak terdapat hubungan signifikan antara screen time dan kualitas tidur (r = -0,173; p = 0,132). Analisis regresi logistik menunjukkan bahwa aktivitas fisik secara signifikan memengaruhi kualitas tidur (OR = 8,556; 95% CI: 3,015–24,276; p &lt; 0,001), sedangkan screen time tidak berpengaruh signifikan (OR = 0,584; 95% CI: 0,203–1,684; p = 0,320). <strong>Kesimpulan:</strong> Aktivitas fisik berhubungan positif terhadap kualitas tidur dan memiliki pengaruh<br />dominan dibandingkan durasi screen time. <strong>Saran:</strong> Intervensi untuk meningkatkan kualitas tidur pada mahasiswa sebaiknya fokus pada peningkatan aktivitas fisik, sementara manajemen screen time dapat dipertimbangkan sebagai pendukung.</p> Rendhy Irawan Suhardi Nurul Fithriati Haritsah Copyright (c) 2025 Suhardi -, Rendhy Irawan, nurul fithriati haritsah https://creativecommons.org/licenses/by/4.0 2025-10-31 2025-10-31 3 3 22 31 10.64974/jnf.v3i3.89 PENGARUH SENAM YOGA TERHADAP PENINGKATAN KUALITAS TIDUR LANSIA https://jurnafisio.com/index.php/JF/article/view/90 <p><strong>Latar belakang:</strong> Kesehatan merupakan aspek penting dalam kehidupan manusia, termasuk bagi lansia yang rentan mengalami gangguan tidur akibat perubahan fisiologis seiring bertambahnya usia. Berbagai aktivitas fisik seperti senam yoga telah terbukti berkontribusi dalam meningkatkan kualitas tidur lansia melalui mekanisme relaksasi dan regulasi sistem saraf.<strong> Tujuan:</strong> penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh senam yoga terhadap kualitas tidur lansia. <strong>Metode:</strong> Penelitian ini merupakan penelitian one group pre-test dan post-test. Intervensi diberikan sebanyak 3 kali perminggu selama 3 minggu, dengan jumlah subjek sebanyak 15 orang. Alat ukur yang digunakan yaitu Pittsburgh Sleep Quality Index. <strong>Hasil:</strong> Hasil uji beda pre-test dan post-test didapatkan p=0.001 (p&lt;0.05). <strong>Kesimpulan:</strong> Senam Yoga efektif terhadap kualitas tidur pada lansia.</p> Raihan Banun Aqwiya Afrianti Wahyu Dwi Kurniawati Copyright (c) 2025 afrianti wahyu https://creativecommons.org/licenses/by/4.0 2025-10-31 2025-10-31 3 3 32 38 10.64974/jnf.v3i3.90 PENATALAKSANAAN FISIOTERAPI PADA KASUS CARPAL TUNNEL SYNDROME (CTS) DEXTRA DENGAN MENGGUNAKAN MODALITAS ULTRASOUND (US) DAN TERAPI LATIHAN DI RSUD PANEMBAHAN SENOPATI BANTUL https://jurnafisio.com/index.php/JF/article/view/94 <p><strong>Latar Belakang: </strong><em>Carpal Tunnel Syndrome </em>merupakan cedera pada pergelangan tangan karena adanya penekanan pada <em>nervus medianus. </em>Problematika CTS yaitu terdapat nyeri diam, tekan, dan gerak, keterbatasan LGS, penurunan kekuatan otot yang mengakibatkan penurunan kemampuan fungsional. Fisioterapi dapat menggunakan modalitas <em>ultrasound, </em>dan terapi latihan<em> nerve gliding exercise, </em>dan <em>resisted active exercise.</em> <strong>Tujuan: </strong>Untuk mengetahui efektivitas intervensi fisioterapi dengan modalitas <em>Ultrasound</em> (US), dan Terapi Latihan <em>nerve gliding exercise, </em>dan<em> resisted active exercise</em>. <strong>Metode: </strong>Jenis data sekunder, teknik pengumpulan data dengan studi dokumentasi yaitu rekam medis dan status klinis. <strong>Hasil: </strong>Setelah dilakukan terapi sebanyak 6 kali didapatkan hasil penurunan nyeri diam T0: 2 menjadi T6: 0, nyeri tekan T0: 5 menjadi T6: 1, nyeri gerak T0: 6 menjadi T6: 2. Pada lingkup gerak sendi T0: S: 30<sup>o</sup>-0<sup>o</sup>-45<sup>o</sup> menjadi T6: S: 50<sup>o</sup>-0<sup>o</sup>-60<sup>o</sup>, T0: F: 20<sup>o</sup>-0<sup>o</sup>-30<sup>o</sup>, menjadi T6: F: 20<sup>o</sup>-0<sup>o</sup>-30<sup>o</sup>. Pada kekuatan otot T0: 4 menjadi T6: 5. Pada kemampuan fungsional T0: 34%<em>, </em>menjadi T6: 16%<em>. </em><strong>Kesimpulan: </strong><em>Ultrasound</em> (US) dan terapi latihan <em>nerve gliding exercise, resisted active exercise </em>dapat mengurangi nyeri, meningkatkan LGS, meningkatkan kekuatan otot, dan meningkatkan kemampuan fungsional</p> Deny Febriyanto Githa Andriani Husna Arwa Salsabil Copyright (c) 2025 Husna Arwa Salsabil, Deny Febriyanto, Githa Andriani https://creativecommons.org/licenses/by/4.0 2025-10-31 2025-10-31 3 3 39 47 10.64974/jnf.v3i3.94 HUBUNGAN INDEKS MASSA TUBUH TERHADAP KESEIMBANGAN DINAMIS PADA LANSIA https://jurnafisio.com/index.php/JF/article/view/85 <p><strong>Latar Belakang</strong>: Lanjut usia merupakan salah satu bagian tahap dari tumbuh kembang yang ada pada manusia. Pada tahap ini akan terjadi proses penuaan akan menyebabkan berbagai perubahan pada lansia. Perubahan - perubahan yang dialami oleh lansia diikuti dengan munculnya dampak permasalahan yaitu penurunan kualitas hidup dan tingginya angka terjadinya jatuh pada lansia. Jatuh pada lansia ini dapat terjadi oleh karena beberapa faktor yang salah satunya adalah gangguan keseimbangan, penyebab terjadinya gangguan keseimbangan adalah terkait dengan indeks massa tubuh orang tersebut. <strong>Tujuan</strong>: Untuk mengetahui hubungan indeks massa tubuh (IMT) terhadap keseimbangan dinamis pada lansia. <strong>Metode</strong>: Jenis penelitian yang dipakai adalah analitik observasional dengan menggunakan rancangan <em>cross sectional </em>. subjek pada penelitian ini sebanyak 45 lansia dari Posbindu Desa Madu Asri, Kec. Colomadu, Kab. Karanganyar. Setiap orang melakukan pengukuran dengan <em>stature</em> <em>meter</em> dan timbangan untuk mengukur IMT dan <em>Time Up and Go Test </em>(TUGT) untuk mengukur keseimbangan dinamis. <strong>Hasil</strong>: Hasil uji korelasi menggunakan pearson didapatkan nilai signifikansi sebesar 0,003 (p &lt; 0,05) yang memiliki arti bahwa terdapat adanya hubungan yang signifikan antara indeks massa tubuh terhadap keseimbangan dinamis pada lansia. Data diatas diperoleh angka koefisien korelasi sebesar (r) = 0,437 hal ini menunjukkan adanya hubungan searah dengan tingkat sedang yang bernilai positif antara indeks massa tubuh terhadap keseimbangan dinamis. <strong>Kesimpulan</strong>: Adanya hubungan indeks massa tubuh dengan keseimbangan dinamis pada lansia Posbindu Desa Madu Asri, Kec. Colomadu, Kab. Karanganyar.</p> <p> </p> Benigna Livia Cahyaning Ayu Triyana Dwi Kurniawati Copyright (c) 2025 Triyana, Benigna Livia Cahyaning Ayu, Dwi Kurniawati https://creativecommons.org/licenses/by/4.0 2025-10-31 2025-10-31 3 3 48 55 10.64974/jnf.v3i3.85 PENGARUH DRY NEEDLING TERHADAP PENURUNAN NYERI PADA MYOFASCIAL TRIGGER POINT SYNDROME OTOT UPPER TRAPEZIUS https://jurnafisio.com/index.php/JF/article/view/91 <p><strong>Abstrak: </strong>Nyeri <em>myofascial trigger point syndrome </em>otot <em>upper trapezius </em>merupakan masalah yang paling umum dijumpai khususnya pada pekerja konveksi. Bekerja dengan posisi duduk dan kepala menunduk dalam jangka waktu lama serta statis dapat menyebabkan kontraksi berlebihan sehingga mengakibatkan nyeri <em>myofascial trigger point syndrome. </em>Salah satu upaya fisioterapi dalam menangani kasus <em>myofascial trigger point syndrome </em>pada otot <em>upper trapezius </em>yaitu dengan <em>dry needling</em>. <em>Dry needling </em>merupakan pendekatan untuk mengurangi nyeri akibat <em>myofascial trigger point syndrome </em>dengan merangsang titik-titik pemicu nyeri menggunakan jarum steril. <strong>Tujuan: </strong>untuk mengetahui pengaruh <em>dry needling </em>terhadap penurunan nyeri <em>myofascial trigger point syndrome </em>pada otot <em>upper trapezius. </em><strong>Metode: </strong>penelitian ini menggunakan <em>one group pre-post test with control design. </em>kelompok I sebagai kelompok perlakuan (n=15) dan kelompok II sebagai kelompok kontrol (n=15). Alat ukur pada penelitian ini adalah <em>quadruple visual analogue scale </em>(QVAS). <strong>Hasil: </strong>uji hipotesis menggunakan <em>paired samples t-test </em>pada subjek penelitian didapatkan hasil p = 0,000 berarti p &lt; 0,05 sehingga secara statistik terdapat pengaruh pemberian <em>dry needling </em>terhadap penurunan nyeri <em>myofascial trigger point syndrome </em>pada otot <em>upper trapezius. </em><strong>Kesimpulan: </strong><em>dry needling </em>berpengaruh terhadap penurunan nyeri <em>myofascial trigger point syndrome </em>pada otot <em>upper trapezius.</em></p> Natasya Mutiara Suci Savitri Saifudin Zuhri Setiawan Copyright (c) 2025 Natasya Mutiara Suci Savitri, Saifudin Zuhri, Setiawan https://creativecommons.org/licenses/by/4.0 2025-10-31 2025-10-31 3 3 56 65 10.64974/jnf.v3i3.91 DAMPAK LATIHAN LOMPAT TALI TERHADAP PENINGKATAN KEMAMPUAN LONCAT VERTIKAL PEMAIN BOLA VOLI https://jurnafisio.com/index.php/JF/article/view/83 <p><strong>Latar belakang:</strong> Daya ledak merupakan kemampuan otot atau sekelompok otot untuk menghasilkan kekuatan kontraksi tinggi dalam waktu yang singkat atau secara eksplosif.&nbsp; Daya ledak otot merupakan komponen fisik yang menunjang aktivitas fisik terutama pada gerakan melompat. Terdiri dari dua komponen utama yaitu kecepatan dan kekuatan.&nbsp; Latihan lompat tali dapat digunakan sebagai salah satu metode latihan untuk meningkatkan nilai daya ledak otot tungkai<strong>. Tujuan:</strong> Mengetahui dampak latihan lompat tali terhadap peningkatan daya ledak otot tungkai. <strong>Metode:</strong> Penelitian ini merupakan penelitian one group pre-test dan post-test yang dilaksanakan di bulan Februari-Maret 2025, 12 kali perlakuan selama 4 minggu, di Gor Soedriman Pandana Merdeka Semarang dengan jumlah subjek sebanyak 20 orang. Jumlah subjek disesuaikan dengan jumlah anggota yang hadir pada hari pengambilan data dan yang memenuhi kriteria yang sudah ditentukan. Alat ukur yang digunakan yaitu Vertical Jump Test. <strong>Hasil:</strong> Hasil uji beda pre-test dan post-test didapatkan p=0.001 (p&lt;0.05). <strong>Kesimpulan:</strong> Latihan lompat tali memiliki dampak terhadap peningkatan daya ledak otot tungkai terhadap pemain voli.</p> Tsabitah Putri Zubaidah Dwi Kurniawati Sugiono Nurul Fithriati Haritsa Copyright (c) 2025 Tsabitah Putri Zubaidah -, Dwi Kurniawati, Sugiono, Nurul Fithriati Haritsa https://creativecommons.org/licenses/by/4.0 2025-10-31 2025-10-31 3 3 66 74 10.64974/jnf.v3i3.83