https://jurnafisio.com/index.php/JF/issue/feedJurnal Nasional Fisioterapi 2026-03-17T09:42:19+00:00Herdianty Kusuma Hfisioherdianty@gmail.comOpen Journal Systems<p><strong>Jurnal Nasional Fisioterapi</strong> merupakan jurnal yang diterbitkan oleh Jurusan Fisioterapi Poltekkes Kemenkes Surakarta yang terdaftar dengan nomor <strong> ISSN (e): <a href="https://issn.brin.go.id/terbit/detail/20231204302195256" target="_blank" rel="noopener">3047-0927.</a> </strong>Jurnal ini berisi tulisan yang diangkat dari hasil penelitian kesehatan terutama di bidang fisioterapi yang telah melalui proses peer review. Adapun cakupan bidang fisioterapi meliputi fisioterapi muskuloskeletal, neuromuskuler, kardiovaskuler, kardiopulmonal, pediatri, geriatri, kesehatan wanita, olahraga, integumen,rehabilitasi berbasis masyarakat, maupun kesehatan kerja dan ergonomi.</p> <p>Cakupan artikel yang dipublikasikan pada Jurnal Nasional Fisioterapi meliputi hasil penelitian eksperimen maupun non eksperiman.</p> <p><strong>Jurnal Nasional Fisioterapi </strong>diterbitkan tiga kali dalam setahun, yaitu pada bulan <strong>Februari</strong>, <strong>Juni</strong> dan <strong>Oktober.</strong></p> <p><strong><a href="https://docs.google.com/document/d/1lLgkVjp5fcTE4qM9-ld9GCAZrZZTDR-p/edit?usp=sharing&ouid=112597942157170886654&rtpof=true&sd=true">Download Template </a>| <a href="https://jurnafisio.com/index.php/JF/about/submissions">Submissions</a></strong></p>https://jurnafisio.com/index.php/JF/article/view/101Beda Pengaruh Senam Tera dan Progressive Muscle Relaxation Therapy terhadap Penurunan Hipertensi pada Lansia di Posyandu Lansia Tohudan Wetan2026-02-04T05:42:46+00:00Ni Nyoman Yuni Triyanitriyana.fisio@gmail.comPajar Haryatnotriyana.fisio@gmail.comTriyanatriyana.fisio@gmail.com<p><strong>Latar Belakang:</strong> Hipertensi pada lansia berisiko tinggi menimbulkan komplikasi kardiovaskular. Terapi nonfarmakologis seperti senam tera dan <em>progressive muscle relaxation therapy</em> (PMRT) dapat menjadi alternatif pengendalian tekanan darah. <strong>Tujuan:</strong> Menganalisis pengaruh senam tera dan PMRT terhadap tekanan darah lansia serta membandingkan efektivitas keduanya.<br><strong>Metode:</strong> Desain penelitian <em>two groups pre and post-test</em> dengan 40 lansia (masing-masing 20 orang per kelompok). Intervensi dilakukan selama dua minggu (3 kali/minggu). Tekanan darah diukur sebelum dan sesudah intervensi menggunakan sphygmomanometer, data dianalisis dengan uji Wilcoxon dan Mann-Whitney. <strong>Hasil:</strong> Senam tera dan PMRT sama-sama menurunkan tekanan darah secara signifikan, dengan perbedaan bermakna antar kelompok. PMRT lebih efektif dibandingkan senam tera. <strong>Kesimpulan:</strong> Senam tera dan PMRT efektif menurunkan tekanan darah lansia, namun PMRT menunjukkan hasil lebih optimal</p>2026-03-17T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 Triyana, Ni Nyoman Yuni Triyani, Pajar Haryatnohttps://jurnafisio.com/index.php/JF/article/view/99Efektivitas Balance Exercise terhadap Keseimbangan pada Lansia2026-02-16T01:58:50+00:00Fitri Arianiapip.physio@gmail.comAfif Ghufroniapip.physio@gmail.comDwi Nur Astutiapip.physio@gmail.com<p><strong>Latar Belakang</strong>: Gangguan keseimbangan merupakan masalah umum pada lansia yang berkontribusi terhadap peningkatan risiko jatuh, penurunan kemandirian, dan kualitas hidup. Balance exercise direkomendasikan sebagai intervensi fisioterapi untuk meningkatkan kontrol postural dan mencegah risiko jatuh pada lansia. <strong>Tujuan</strong>: Mengetahui efektivitas balance exercise terhadap peningkatan keseimbangan pada lansia.<strong>. Metode</strong>: Penelitian ini menggunakan desain quasi-experimental dengan pretest–posttest control group design. Subjek penelitian berjumlah 34 lansia yang dibagi menjadi kelompok intervensi dan kelompok kontrol. Intervensi balance exercise diberikan selama 3 minggu dengan frekuensi 2 kali per minggu. Keseimbangan diukur menggunakan Berg Balance Scale (BBS) sebelum dan sesudah intervensi. Analisis data menggunakan uji Wilcoxon dengan tingkat signifikansi p < 0,05. <strong>Hasil</strong>: Terdapat peningkatan skor keseimbangan yang bermakna setelah pemberian balance exercise (p < 0,05). <strong>Kesimpulan</strong>: Balance exercise efektif meningkatkan keseimbangan pada lansia dan dapat direkomendasikan sebagai intervensi fisioterapi dalam program pencegahan risiko jatuh di komunitas.</p>2026-03-17T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 Afif Ghufroni, Fitri Ariani, Dwi Nur Astutihttps://jurnafisio.com/index.php/JF/article/view/102Efektivitas High Intensity Interval Training (HIIT) dan Sprint Interval Training (SIT) dalam Meningkatkan Kapasitas Aerobik (VO₂Max) Atlet Sepak Bola2026-02-16T02:48:24+00:00Isnaeni Nur Maulida Putriisnaeninmp@gmail.comSugiono -sugifisio@gmail.comNitaya Putri Nur Hidayatijurnalfisiopolkesta@gmail.com<p><strong>Background</strong>: VO₂max is the gold standard for measuring aerobic fitness and plays an important role in supporting the performance of soccer athletes during matches lasting 2 × 45 minutes. <em>High Intensity Interval Training (HIIT) </em>and <em>Sprint Interval Training </em><em>(SIT) </em>are two types of interval training that are commonly used to improve VO₂max. <strong>Objective</strong>: This study aimed to determine the effectiveness of HIIT and SIT on increasing VO₂max in soccer athletes. <strong>Methods</strong>: This study used a <em>two groups pre-test and post-test</em> design. The research subjects were athletes from SSB AT-Farmasi Solo who met the inclusion and exclusion criteria. A total of 16 subjects were randomly divided into two groups, namely the HIIT group and the SIT group, with eight subjects in each group. The intervention was conducted in six training sessions over a period of two weeks with a frequency of three sessions per week. During the study, two subjects dropped out, leaving fourteen subjects for analysis. VO₂max was measured using the <em>beep test</em>. Data analysis was performed using the Wilcoxon test to determine differences before and after the intervention and the Mann–Whitney test to determine differences between groups. <strong>Results</strong>: (1) There was an increase in VO₂max in the HIIT group after the intervention with a p-value of 0.014 (p < 0.05); (2) There was an increase in VO₂max in the SIT group after the intervention with a p-value of 0.011 (p < 0.05); (3) There was no significant difference in the effect of HIIT and SIT on increasing VO₂max with a p-value of 0.53 (p > 0.05). <strong>Conclusion</strong>: (1) HIIT is effective in increasing VO₂max in soccer athletes; (2) SIT is effective in increasing VO₂max in soccer athletes; (3) There is no difference in the effect of HIIT and SIT on increasing VO₂max in soccer athletes.</p>2026-03-17T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 Isnaeni Nur Maulida Putri, Sugiono -, Nitaya Putri Nur Hidayatihttps://jurnafisio.com/index.php/JF/article/view/96Perbedaan Pengaruh Abdominal Exercise dan Swiss Ball Exercise Terhadap Penurunan Lemak Perut pada Mahasiswi dengan Obesitas Sentral2026-02-16T02:26:52+00:00Elta Nizuleltanizul@gmail.comDika Rizki Imaniaeltanizul@gmail.comTri Laksonoeltanizul@gmail.com<p><strong>Latar Belakang</strong><strong>: </strong>Obesitas sentral merupakan kondisi kelebihan lemak perut yang dipicu oleh gaya hidup, asupan kalori yang tinggi, stress, serta rendahnya aktivitas fisik. Obesitas sentral sering terjadi terhadap perempuan dari pada laki-laki karena perempuan mengontrol energi sebagai lemak simpanan, laki-laki menggunakan energinya untuk mensintesis protein. Pada penelitian ini menggunakan intervensi Swiss Ball dan Abdominal Exercise didasarkan pada prinsip penguatan stabilitas inti untuk mengatasi gangguan biomekanik akibat beban perut berlebih.</p> <p><strong>Tujuan: </strong>Penelitian bertujuan mengetahui perbedaan Abdominal Exercise dan Swiss Ball Exercise terhadap obesitas sentral pada mahasiswa.</p> <p><strong>Metode: </strong>Populasi diambil adalah Mahasiswi Fikes UNISA yang memiliki penumpukan lemak perut sesuai prosedur peneliti. Jenis peneltian ini quasi eksperimental dengan desain pre test and post test two group design pada sampel 26 orang yang dibagi menjadi dua kelompok.</p> <p><strong>Hasil: </strong>Hasil uji pengaruh dua kelompok menggunakan paired sample t-test yaitu kelompok I nilai p =0,000(p<0,05) dan kelompok II nilaip =0,000(p<0,05) berarti latihan yang diberikan pada masing-masing memiliki pengaruh signifikan terhadap penurunan lemak perut. Hasil uji perbedaan menggunakan independent sample t-test menunjukan nilai p =0,336(p>0,05) berarti tidak ada perbedaan pengaruh antara kelompok I dan kelompok II.</p> <p><strong>Kesimpulan: </strong>Tidak ada perbedaan pengaruh Abdominal Exercise dan Swiss Ball Exercise terhadap penurunan lemak perut penderita obesitas sentral pada mahasiswi.</p> <p> </p> <p> </p>2026-03-17T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 elta nizul, Dika Rizki Imania, Tri Laksonohttps://jurnafisio.com/index.php/JF/article/view/104Pengaruh Latihan Plyometric Terhadap Peningkatan Daya Ledak Otot Tungkai Pada Pemain Voli Amatir2026-02-16T02:32:52+00:00Maydova Luay Antasena Raharjominemimin@yahoo.comJasmine Kartiko Pertiwiminemimin@yahoo.comSuhardiminemimin@yahoo.comYulianto Wahyonominemimin@yahoo.com<p><strong>Latar Belakang</strong>: daya ledak adalah kemampuan otot dalam waktu yang sangat cepat untuk mengarahkan kekuatan secara maksimal. Daya ledak otot merupakan komponen fisik yang menunjang aktivitas fisik terutama pada gerakan melompat. Melompat merupakan gerakan yang menjahui permukaan tanah secara horizontal yang didalamnya memiliki komponen utama berupa daya ledak yang terdiri dari kecepatan dan kekuatan yang dikombinasikan dengan baik didalamnya. Untuk mendapatkan daya ledak yang baik perlulah dilakukan latihan yang terstruktur dan terprogram. <strong>Tujuan</strong>: untuk mengetahui pengaruh pemberian latihan plyometric terhadap daya ledak otot tungkai pada pemain voli amatir.<strong> Metode</strong>: Two group pre and post test design. Dengan jumlah subjek 30 orang yang dibagi menjadi dua kelompok dimana kelompok satu diberikan perlakuan berupa latihan plyometrik dan kelompok dua diberikan berupa latihan standar. <strong>Hasil</strong>: Hasil uji paired t-test pada pre test dan post test kelompok satu memiliki nilai p = 0,000 dan pada kelompok dua memiliki nilai p = 0,000. Hasil uji Independent sample t-test post test kelompok satu dan kelompok dua memiliki hasil p =0,038. Pada hasil selisih nilai mean kedua kelompok menghasilkan selisih sebanyak 3,73 pada kelompok satu dan 2 pada kelompok dua. <strong>Kesimpulan</strong>: Latihan plyometric memiliki pengaruh yang lebih efektif dibandingkan latihan standar terhadap peningkatan daya ledak otot tungkai pemain voli amatir</p>2026-03-17T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 Jasmine Kartiko Pertiwi, Maydova Luay Antasena Raharjo, Suhardi, Yulianto Wahyonohttps://jurnafisio.com/index.php/JF/article/view/105Pengaruh Plyometric Exercise terhadap Peningkatan Daya Ledak Gerakan Melompat pada Atlet Sepak Bola2026-02-16T02:35:05+00:00Burhan Maliknurulfithriati_haritsa@yahoo.comNurul Haritsahnurulfithriati_haritsa@yahoo.comSetiawansetiawan.fts@gmail.com<p><strong>Latar Belakang</strong>: Kemampuan melompat merupakan komponen penting dalam performa atlet sepak bola, terutama dalam situasi duel udara, intersepsi, dan penyelesaian akhir. Daya ledak otot tungkai menjadi penentu utama dalam menghasilkan lompatan yang tinggi dan cepat. Salah satu metode latihan yang terbukti efektif dalam meningkatkan daya ledak adalah <em>plyometric exercise</em>, yaitu latihan intensitas tinggi yang menggabungkan kekuatan dan kecepatan kontraksi otot. Beberapa studi terkini menunjukkan bahwa <em>plyometric exercise</em> mampu meningkatkan performa lompatan vertikal secara signifikan pada atlet usia remaja. Namun, masih terbatasnya penelitian yang secara spesifik mengkaji pengaruh <em>plyometric exercise</em> terhadap daya ledak melompat pada atlet sepak bola usia 15–17 tahun menjadi celah yang perlu diteliti lebih lanjut. <strong>Tujuan</strong>: Untuk mengetahui apakah terdapat pengaruh <em>plyometric exercise</em> terhadap peningkatan daya ledak gerakan melompat pada atlet sepak bola. <strong>Metode</strong>: Penelitian ini menggunakan metode penelitian <em>Randomized Control Trial</em> dengan rancangan penelitian yang digunakan adalah <em>one group pre-test and post-test with control design</em> yang dilakukan pada bulan April-Mei 2025. Subjek merupakan atlet AT Farmasi berjumlah 32 subjek. Subjek dibagi menjadi 2 kelompok dengan secara acak dengan nomor undian. Kelompok 1 mendapatkan <em>plyometric exercise </em>dan latihan standar berjumlah 16 orang, kelompok 2 mendapatkan latihan standar berjumlah 16 orang. Pengukuran menggunakan <em>Vertical Jump test</em> (VJ) yang dilakukan sebelum dan sesudah perlakuan. <strong>Hasil</strong>: Hasil uji statistik sebelum dan sesudah pada kelompok perlakuan mendapatkan hasil nilai p=0,001, p<0,05 menunjukkan adanya perbedaan pengaruh antara kedua kelompok. Sedangkan hasil uji data selisih kelompok 1 mengalami peningkatan daya ledak gerakan melompat lebih besar daripada kelompok 2 (P=0,001).</p> <p><strong>Kesimpulan</strong>: Pemberian <em>plyometric exercise</em> dapat meningkatan daya ledak gerakan melompat pada atlet sepak bola.</p>2026-03-17T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 Nurul Haritsah, Burhan Malik, Setiawanhttps://jurnafisio.com/index.php/JF/article/view/106Hubungan Posisi Kerja dan Durasi Kerja dengan Keluhan Low Back Pain pada Pekerja PT. Iskandartex Surakarta 2026-02-11T09:36:15+00:00Azra Syafa Surbaktizuhriphysio@gmail.comSaifudin Zuhrizuhriphysio@gmail.comAditya Johan Radityajohan@gmail.com<p><strong>Latar Belakang:</strong> Low back pain (LBP) merupakan gangguan muskuloskeletal yang sering dialami pekerja industri akibat posisi kerja yang tidak ergonomis dan durasi kerja yang panjang. Kondisi ini dapat menurunkan produktivitas serta meningkatkan risiko gangguan kesehatan kerja.</p> <p><strong>Tujuan:</strong> Mengetahui hubungan posisi kerja dan durasi kerja dengan keluhan LBP pada pekerja PT. Iskandartex Surakarta. <strong>Metode:</strong> Penelitian observasional analitik dengan pendekatan cross sectional study pada Februari 2025 pada 30 pekerja bagian produksi. Posisi kerja dinilai menggunakan Rapid Entire Body Assessment (REBA) dan Nordic Body Map (NBM). Durasi kerja dan keluhan LBP diukur dengan kuesioner. Analisis data menggunakan uji Chi-Square dan korelasi Spearman dengan tingkat signifikansi p<0,05.</p> <p><strong>Hasil:</strong> Sebagian besar pekerja berada pada kategori risiko ergonomi sedang hingga tinggi yang mengalami keluhan LBP. Terdapat hubungan signifikan antara posisi kerja dengan keluhan LBP berdasarkan REBA (p=0,003; r=0,543) dan NBM (p=0,000; r=0,668). Terdapat hubungan signifikan juga antara durasi kerja dengan keluhan LBP (p=0,046; r=0,364). <strong>Kesimpulan:</strong> Posisi kerja dan durasi kerja berhubungan signifikan dengan keluhan LBP</p>2026-03-17T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 Saifudin Zuhri, Azra Syafa Surbakti, Aditya Johan R